• Home
  • About Andien
  • Contact Me
Powered by Blogger.

Connect With Us

the plan B life


Aku menemukan laki-laki itu pertama kali ketika malam terang, namun bulan belum penuh. Cahaya jatuh  yang membuat bayangan melekat pada setiap benda, cukup membuat aku menyadari kehadirannya. Ia muncul dari balik pohon ketika aku sedang menunggu kekasihku. Laki-laki yang muncul dari balik pohon itu tidak jelas terlihat dan selalu dalam sisi jatuhnya bayangan. Ketika aku mencoba menyentuhnya, ia tidak terasa.
Ayahku dulu pernah berkata jika sesuatu tak jelas kau lihat, cobalah kau sentuh, jika tak jelas juga terasa, maka nyatakan bahwa ia tidak ada. Tak terlihat, tak terasa, maka ia tak nyata. Dan pergilah kau, segera tinggalkan, sebelum kau terkena ilusi atas sesuatu yang tak nyata.
Laki-laki dari balik pohon di malam yang terang walau bulan belum penuh, tidak cukup jelas terlihat dan tidak dapat terasa. Seharusnya aku segera pergi, sebelum terkena ilusi atas sesuatu yang tak nyata. Sayangnya, aku tidak pergi. Aku meminta agar ia tinggal dan menemaniku menunggu sang kekasih. Ia bilang ya, dan kami duduk bersama, bersejajaran, walau tidak saling menatap, dan terdapat jarak. Aku pada sisi tidak terkena bayangan. Dan ia pada sisi dimana bayangan jatuh.
“Kekasihmu tidak akan datang,” katanya.
“Aku tahu,” jawabku lirih.
“Kekasihmu pergi dengan perempuan lain.”
“Aku tahu.”
“Maka tidak ada gunanya kamu di sini.”
“Ya, aku tahu.”
“Kalau kamu sudah tahu, maka tidak ada gunanya aku di sini.”
“Kau memberiku hangat.”
“Kamu tahu, aku hanya ilusi?”
“Iya.”
“Ilusi tidak memberikan rasa hangat.”
“Tapi kau iya.”
“Tetap tidak membuatku menjadi bukan ilusi.”
“Pergilah kalau kau mau pergi.”
“Aku takut kamu kedinginan.”
“Ilusi tidak mungkin ketakutan,” ujarku dengan tersenyum. Tanpa melihat laki-laki itu.
“Kamu keras kepala.”
“Terima kasih.”
Sampai cahaya malam hampir hilang, kami terdiam pada posisi yang sama. Aku tahu bahwa laki-laki itu ilusi. Tapi apakah ilusi jika ia menimbulkan rasa hangat di seluruh badanmu dan ketenangan di pikiranmu?
Aku baru memejamkan mataku sebentar ketika matahari mulai terbit dan membuatku terjaga. Laki-laki itu tidak ada.
---
Hari berikutnya aku tidak datang ke pohon yang sama. Malam itu bulan penuh. Aku menemukan laki-laki itu ketika tanpa sengaja aku keluar rumah dan ingin menghisap rokokku. Bayangan rumah jatuh pada sisi laki-laki itu berdiri.
“Salam,” sapanya.
“Salam.”
“Kamu tidak takut padaku?”
“Mengapa takut kalau kau mampu menenangkan hatiku?”
Ia tersenyum. “Kamu masih teringat pada kekasihmu?”
“Tidak, aku teringat padamu.”
“Aku ilusi.”
“Aku tahu.”
“Aku tidak nyata.”
“Iya, aku tahu.”
“Aku dapat saja menghilang.”
“Tapi kau ada saat ini.”
“Kamu keras kepala.”
“Terima kasih.”
Kemudian aku bercerita padanya tentang hariku. Tentang hari sebelum aku bertemu dengannya. Tentang hari-hari jauh sebelum aku bertemu dengannya. Aku bercerita semua luka dan tawaku. Aku bercerita tentangku yang bahkan tak pernah kuingat sebelumnya. Aku menemukan sebagian diriku malam itu. Malam hampir berakhir ketika kusadari bahwa pertemuan kami berbatas.
“Aku harus pergi,” katanya.
“Apakah aku akan berjumpa dengan kau lagi?”
“Mungkin.”
“Datanglah.”
“Mengapa?”
“Karena kau membuatku hangat.”
“Kamu mulai tergantung.”
“Bagaimana mungkin tergantung pada apa kau bilang? Ilusi?”
“Kamu keras kepala.”
“Terima kasih.”
Aku tidak mau melihat bagaimana laki-laki itu pergi. Aku tahu langkahnya menjauh dengan penuh keraguan.
“Pergilah,” ujarku.
“Semoga kamu selalu dalam penjagaan Yang Maha Kuasa. Salam. ” balasnya. Kemudian ia pergi.
---
Beberapa hari selanjutnya aku tidak mampu menemukannya. Di setiap malam aku mencari pada setiap sisi bayangan yang jatuh, di sekitar rumah, di keramaian, di keheningan, berharap aku menemukan laki-laki itu namun ia tidak ada. Aku mendatangi tempat pertama kali aku menemukannya dan menunggunya sampai hampir pagi tapi ia tidak ada.
Semakin lama tubuhku menjadi lebih dingin. Aku mulai menggigil setiap malam. Aku kehilangan hampir seluruh panas tubuhku. Laki-laki dalam bayangan itu mencuri panas tubuhku. Kalau ia hanya ilusi, sebagaimana selalu ia katakan, mengapa ia mampu mencuri panas tubuhku? Kalau ia hanya ilusi, sebagaimana selalu ia katakan, mengapa dingin ini terasa sakit menusuk tulang?
Bulan tak lagi memantulkan cahaya. Aku panik. Dimana aku akan menemukannya? Dingin ini begitu menyakitkan. Berlapis-lapis kain tak jua menghangatkanku. Beberapa dokter mengatakan bahwa aku tidak apa-apa, bahwa dingin ini tidak nyata, dan aku semata hanya kelelahan. Stress. Dan seorang dokter memberiku resep obat penenang. Hah, dokter mengatakan bahwa dinginku ini tidak nyata? Ilusi maksudnya kah? Mestinya kita bertukar tempat saja, Dok, agar kau rasakan apakah ini nyata atau tidak.
Dingin ini sangat menyakitkan, hingga pada saat aku hampir menyerah, aku teringat kata-katanya sebelum ia pergi. Bahwa ia mendoakan agar aku selalu dalam perlindungan Yang Maha Kuasa. Saat itu, aku yakin aku akan menemuinya kelak.

---
Siang itu aku merebahkan tubuh di bawah pohon, tempat pertama aku menemukan laki-laki dalam bayangan. Sudah lewat beberapa waktu berlalu dari aku kehilangan panas tubuhku. Aku sudah terbiasa dengan dingin yang menusuk. Aku memutuskan semakin intim pada siang dengan panasnya yang terik dan sinarnya yang menyilaukan, dan mulai menjauhi malam.
Aku sadar bahwa aku telah jatuh cinta pada ilusi yang hadir saat malam. Pada laki-laki dalam bayangan yang muncul dari balik pohon.
Aku memandang daun-daun di atas kepalaku. Melihatnya bergerak pelan tertiup angin. Berapakah jumlah daun-daun dalam pohon ini? Dan saat satu, dua atau lebih daun jatuh, tak kekurangankah pohon ini, tak terganggukah hidupnya? Betapa alam semesta adalah suatu sistem harmoni yang sangat kompleks yang tak pernah terjangkau oleh kemampuan makhluk apapun. Aku dalam ketakjuban yang luar biasa ketika suara yang kukenal dan kurindukan tiba-tiba hadir. Dan tubuhku mulai menghangat.
“Salam.”
“Salam. Senang mendapati kau di sini.” Aku tetap menatap daun-daun di atas kepalaku. Cukup bagiku untuk merasakannya hadir di sini. Aku tak sanggup melihatnya. Ini bukan malam. Mengapa ia dapat hadir?
“Kamu sehat?”
“Kau ilusi. Kau tidak menanyakan apakah aku sehat.”
“Kamu keras kepala.”
“Terima kasih.”
“Teruslah berjalan, tak perlu menantiku.”
“Dan membiarkanku menjalaninya dengan dingin?”
“Terserah kamu.”
“Kau mencuri panas tubuhku dan kau bilang aku harus berjalan tanpamu?”
“Iya.”
“Kau gila.”
“Mungkin.”
“Tapi kau ilusi, bagaimana kau bisa menjadi gila?”
“Kamu yang bilang aku gila.”
“Tak bisakah kau hadir?”
“Dan menemanimu?”
“Dan menemaniku.”
Ia terdiam. Aku tidak perlu melihatnya untuk mengetahui bahwa ia masih berada di tempat yang sama.
“Tak perlu kau jawab sesuatu yang tak kuasa kau jawab,” ujarku.
“Terima kasih.”
“Bagaimana aku bisa hidup tanpa engkau?”
“Jangan bertanya sesuatu yang kamu sudah punya jawabannya.”
Aku tersenyum. Bahkan kalimat yang tak ingin kau dengar sekalipun, jika itu keluar dari mulutnya, tetap menghadirkan hangat pada tubuhku. Rasa hangat yang memeluk dengan penuh kasih.
“Aku merindukan engkau.”
“Kamu hanya merindukan tubuhmu terasa hangat.”
“Mungkin.”
“Aku harus pergi.”
“Apakah aku akan berjumpa dengan kau lagi?”
“Mungkin.”
“Datanglah.”
“Mengapa?”
“Karena aku jatuh cinta pada engkau.”
“Kamu tidak bisa jatuh cinta pada ilusi.”
“Engkau ilusi yang keras kepala.”
Laki-laki itu tertawa. Aku tetap memandangi daun-daun di atas kepalaku. Aku tidak perlu melihat laki-laki dalam bayangan untuk mengetahui bahwa ia masih berada di tempat yang sama. Kami terdiam untuk waktu yang lama. Atau hanya sebentar. Aku pun tak yakin.
“Aku benar-benar harus pergi.”
“Dan aku benar-benar berharap kau bukan ilusi.”
“Supaya pergiku terasa nyata?”
“Supaya hadirnya engkau terasa nyata.”
Dan laki-laki itu pergi. Ia memberikan doanya agar aku selalu dalam penjagaan Pemilik Alam Semesta, bersalam, dan mengambil panas tubuhku.
Mungkin aku akan bertemu dengannya lagi. Atau tidak.
Ayahku dulu pernah berkata jika sesuatu tak jelas kau lihat, cobalah kau sentuh, jika tak jelas juga terasa, maka nyatakan bahwa ia tidak ada. Tak terlihat, tak terasa, maka ia tak nyata. Dan pergilah kau, segera tinggalkan, sebelum kau terkena ilusi atas sesuatu yang tak nyata.
Aku tak menyesal aku tidak meninggalkannya walau aku tak mampu jelas melihatnya, walau aku tak mampu menyentuhnya. Aku terkena ilusi, dan aku jatuh cinta padanya.

========

20-21 November 2015. :) :) :)

Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Categories

  • belajar menulis (1)
  • fiksi (1)
  • karya insomnia (1)

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ►  2018 (1)
    • ►  March (1)
  • ▼  2015 (1)
    • ▼  November (1)
      • Laki-laki dalam Bayangan
  • ►  2013 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2012 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  October (1)

Blog Archive

  • ►  2018 (1)
    • ►  March (1)
  • ▼  2015 (1)
    • ▼  November (1)
      • Laki-laki dalam Bayangan
  • ►  2013 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2012 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  October (1)

Created with by ThemeXpose