Ehm, pertama-tama saya ucapkan Selamat Ulang Tahun jika hari
ini ada yang berulang tahun. Selamat ulang tahun ya. Semoga selalu
bahagia-sejahtera dan dalam lindunganNYA selalu. Atau jika ada yang sedang
berbahagia dengan pasangannya karena hari ini, 29 Nopember 2012, adalah hari
pernikahan atau penyatuan kasih sayang, saya juga ikut-ikut mengucapkan selamat
deh. Semoga awet dan semua langkah yang diambil penuh dengan kasih sayang dan izinNYA.
Amin.
Ok, sekarang tentang Tahun Berulang. Maksud saya, Ulang
Tahun.
Ketika seseorang melewati momen ulang tahun atau hari jadi,
sebagian besar ingat dan merayakannya. Pesta besar, private party, syukuran sederhana atau sekadar menuliskan status di
social media supaya orang (terpaksa) mengingatnya dan (terpaksa) pula mengucapkan
dan (mudah-mudahan yang ini tidak terpaksa) mendoakannya akan hal-hal yang
baik.
Sesuatu yang sangat lazim. Ulang tahun menjadi momen yang “pas-bangeeetzz”
untuk seseorang mengingatkan dirinya sendiri akan sebagian masa lalunya: pencapaiannya,
kegagalannya, kebahagiaannya, kepedihannya. Melihat ke titik saat ini,
bagaimana kondisi sekarang dibanding masa lalunya atas: pencapaiannya,
kegagalannya, kebahagiaannya, kepedihannya. Kemudian berusaha merangkai mimpi
masa depan atas: pencapaiannya dan kebahagiaannya. Menghindari dari kegagalan
dan kepedihan. Kemudian memutuskan: apakah tetap jalan dengan (kisah hidup)
yang lama, atau mencari sesuatu (kisah hidup) yang baru?
Keputusan besar pada momen besar.
Ulang tahun menjadi momen ketika orang pamer usia. Merasa
tua adalah bijaksana. Merasa muda adalah pesona. Kadang inginnya dimudakan,
atau malah dituakan. Usia yang sebenarnya selalu dirasa kurang pas, kecuali
kalau Anda usia 17 tahun. Atau 25 tahun. Atau 40 tahun.
Juga untuk hari jadi atau ulang tahun pernikahan. Semakin
banyak angka, umumnya akan semakin kokohnya pernikahan. Kalau tidak percaya,
mainlah ke Pengadilan Agama. Eh, tapi jangan bawa pasangan ya. Bisa-bisa disangka
Anda sedang upaya cerai dari istri/ suami Anda. :)
Ok, kembali lagi. Angka perceraian saat ini, izinkan saya
menggeneralisasi tanpa statistik valid, lebih banyak di pasangan yang usia
pernikahannya kurang dari 10 tahun. Apakah pasangan yang usia pernikahannya
lebih dari 10 tahun tidak menemui masalah pelik? Oh, jangan salah. Bisa jadi
masalahnya lebih pelik, namun urung karena mengingat: satu, anak. Terlebih
kalau anak sudah satu kesebelasan, wuih, lebih baik jalani dan tutup mata deh.
Kedua, kenyamanan. Berbagi hidup bersama 10 tahun bukan main-main dalam membuat
seluruh ritme hidup satu terikat dengan yang lain. Meninggalkannya membuat
kenyamanan itu hilang. Ketiga, hati sudah semakin lapang. Begitu banyak pintu maaf
yang akan diberikan. Keempat, usia sudah semakin tua, bo’. Mau cari jodoh lagi
kok ya kayaknya yang terbayang duluan adalah capeknya.
Tahun Berulang. Maksud saya, ulang tahun.
Banyak orang merayakannya dengan pesta besar, private party, syukuran sederhana atau
sekadar menuliskan status di social media supaya orang (terpaksa) mengingatnya
dan (terpaksa) pula mengucapkan dan (mudah-mudahan yang ini tidak terpaksa)
mendoakannya akan hal-hal yang baik. Baik untuk ulang tahun diri, ataupun ulang
tahun pernikahan.
Tahun Berulang. Semoga semua keburukkan dihilangkan dan kebaikan
dilimpahkan.
Selamat Ulang Tahun!
29 Nopember 2012. 23:08.
Masih dalam rangka belajar dan pembiasaan untuk menulis
kembali.