Furniture adalah Kehidupan?

by - 9:37 PM



Hari ini, Sabtu 24 Nopember 2012, di harian Kompas terpampang  setengah halaman iklan dari acara Indonesia Furniture Fair 2012. Pada iklan tersebut terdapat model perempuan duduk menyilangkan kaki di atas sofa kulit berwarna krem atau cenderung emas. Di samping wajah model tersebut tertulis kalimat: “furniture adalah kehidupan”. 

Wow. Bukan. WOW!!


Itu respons pertama saya. Bukan atas model perempuan, ataupun sofa yang tampak elegan, melainkan atas kalimat “furniture adalah kehidupan” tersebut. 

Di zaman yang semua hiperbola, semua di-lebayalay-kan, sebenarnya sah-sah juga menyebut bahwa furniture adalah kehidupan. Bahkan apabila dikatakan furniture adalah peradaban, furniture adalah keajaiban, furniture adalah pencetus perang sekalipun, masih sah-sah juga. Hanya masalah penjustifikasian mengapa ada kata-kata bermakna besar, luas, hebat, di belakang “furniture adalah”.

Kembali ke “furniture adalah kehidupan”. Yang menjadi pertanyaan di benak saya adalah mengapa kini banyak sekali kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang mengalami distorsi arti atau terdapat “noise” dalam pemaknaannya. Seperti dalam iklan tersebut, saya tidak melihat adanya hubungan langsung antara furniture dengan kehidupan. Apakah dengan me-lebayalay-kan maka pesan akan sampai? Bahwa orang akan berbondong-bondong untuk mendatangi pameran tersebut karena merasa pada pameran tersebut terdapat kehidupan? Tidak kan? 

Orang akan hadir di pameran tersebut karena kebetulan terdapat kebutuhan untuk membeli furniture (selanjutnya kata furniture saya ganti dengan mebel ya, kecuali jika dikaitkan dengan tema acara atau nama acara itu sendiri) dengan harapan mendapati model-model ala di IKEA misalnya dengan harga terjangkau. Atau hadir karena ia adalah salah satu pihak yang terlibat dalam industri per-mebel-an Indonesia yang merasa peduli, atau berniat mencari peluang bisnis, atau sekadar me-refresh wawasannya. Alasan hadir lainnya bisa jadi hanya karena iseng, menemani pasangan, dan alasan lainnya yang sangat personal dan memungkinkan sejuta kemungkinan.

Intinya, mungkinkah furniture adalah kehidupan?

Tulisan ini hanya sekadar curahan hati, semoga dapat menjadi masukkan bahwa lebay pun kadang perlu diiringi oleh masuk akal.
Saya tidak tahu kalau memang ternyata pameran itu memang dimaksudkan untuk menyatakan bahwa tanpa mebel seseorang dapat tidak hidup, bahwa mebel adalah sesuatu yang vital, seperti air misalnya, sehingga layak disebut: furniture adalah kehidupan.

Ah, mungkin saya memang harus datang ke sana untuk membuktikannya. Tampaknya tujuan iklan tersebut memang menyasar orang-orang seperti saya.

You May Also Like

0 comments