Furniture adalah Kehidupan?
Hari ini, Sabtu 24 Nopember 2012, di harian Kompas terpampang setengah halaman iklan dari acara Indonesia Furniture Fair 2012. Pada iklan tersebut terdapat model perempuan duduk menyilangkan kaki di atas sofa kulit berwarna krem atau cenderung emas. Di samping wajah model tersebut tertulis kalimat: “furniture adalah kehidupan”.
Wow. Bukan. WOW!!
Itu respons pertama saya. Bukan atas model perempuan,
ataupun sofa yang tampak elegan, melainkan atas kalimat “furniture adalah kehidupan” tersebut.
Di zaman yang semua hiperbola, semua di-lebayalay-kan,
sebenarnya sah-sah juga menyebut bahwa furniture
adalah kehidupan. Bahkan apabila dikatakan furniture
adalah peradaban, furniture adalah
keajaiban, furniture adalah pencetus
perang sekalipun, masih sah-sah juga. Hanya masalah penjustifikasian mengapa
ada kata-kata bermakna besar, luas, hebat, di belakang “furniture adalah”.
Kembali ke “furniture
adalah kehidupan”. Yang menjadi pertanyaan di benak saya adalah mengapa kini
banyak sekali kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang mengalami distorsi arti
atau terdapat “noise” dalam pemaknaannya. Seperti dalam iklan tersebut, saya
tidak melihat adanya hubungan langsung antara furniture dengan kehidupan. Apakah dengan me-lebayalay-kan maka
pesan akan sampai? Bahwa orang akan berbondong-bondong untuk mendatangi pameran
tersebut karena merasa pada pameran tersebut terdapat kehidupan? Tidak kan?
Orang akan hadir di pameran tersebut karena kebetulan
terdapat kebutuhan untuk membeli furniture
(selanjutnya kata furniture saya
ganti dengan mebel ya, kecuali jika dikaitkan dengan tema acara atau nama acara
itu sendiri) dengan harapan mendapati model-model ala di IKEA misalnya dengan
harga terjangkau. Atau hadir karena ia adalah salah satu pihak yang terlibat
dalam industri per-mebel-an Indonesia yang merasa peduli, atau berniat mencari
peluang bisnis, atau sekadar me-refresh wawasannya. Alasan hadir lainnya bisa
jadi hanya karena iseng, menemani pasangan, dan alasan lainnya yang sangat
personal dan memungkinkan sejuta kemungkinan.
Intinya, mungkinkah furniture
adalah kehidupan?
Tulisan ini hanya sekadar curahan hati, semoga dapat menjadi
masukkan bahwa lebay pun kadang perlu diiringi oleh masuk akal.
Saya tidak tahu kalau memang ternyata pameran itu memang dimaksudkan
untuk menyatakan bahwa tanpa mebel seseorang dapat tidak hidup, bahwa mebel
adalah sesuatu yang vital, seperti air misalnya, sehingga layak disebut:
furniture adalah kehidupan.
Ah, mungkin saya memang harus datang ke sana untuk
membuktikannya. Tampaknya tujuan iklan tersebut memang menyasar orang-orang
seperti saya.
0 comments