• Home
  • About Andien
  • Contact Me
Powered by Blogger.

Connect With Us

the plan B life

Aku melihatnya sepintas lalu, pada waktu-waktu di mana orang tua hendaknya mengunci anaknya di rumah, karena konon itulah waktu-waktu para makhluk halus banyak berkeliaran. Perempuan itu perempuan yang tak cantik memesona bak bidadari dari khayangan, namun ia menjeratku pada pandangan pertama. Tiga detik dan aku tertawan.

Kemudian perempuan itu lenyap dari pandangan, dan hidupku berjalan seperti semula. Normal yang seringkali membosankan.

Dan perempuan itu kembali lagi. Pada Selasa yang lain, pada waktu yang hampir sama kala aku melihatnya pertama kali. Pada waktu-waktu di mana orang tua hendaknya mengunci anaknya di rumah, karena konon itulah waktu-waktu para makhluk halus banyak berkeliaran. Perempuan itu perempuan yang tak cantik memesona bak bidadari dari khayangan, namun ia menjeratku pada pandangan pertama. Tiga detik dan aku tertawan.
Kemudian dia pergi.
Hidupku normal kembali.

Sampai kemudian pada Selasa yang ketiga, sebelum masuk waktu-waktu di mana orang tua hendaknya mengunci anaknya di rumah, karena konon itulah waktu-waktu para makhluk halus banyak berkeliaran, muncul gelora di diriku untuk menemukannya. Perempuan Hari Selasa-ku. Hasrat tinggi untuk membiarkan diriku tertawan. Tiga detik. Tiga detik kedua. Tiga detik ketiga. Entah hingga entah tiga detik keberapa. Aku ingin ditawan oleh perempuan itu, perempuan yang tak cantik memesona bak bidadari dari khayangan, namun ia menjeratku dengan pandangannya.

Aku mencarinya.
Hanya dia tidak ada.
Hingga waktu berlarian dan tiba-tiba malam memeluk, aku tak mampu menemukannya. Perempuan Hari Selasa-ku hilang.

Tiap pagi dan siang setelah hari Selasa itu, aku selalu bertanya, pada tiap titik yang kudatangi dalam pengelanaanku, pada tiap nyawa yang menyapaku, tahukah kemana Perempuan Hari Selasa-ku?

Harapan adalah sebagian kenyataan walaupun bukan nyata jika ia hanya sebagian. Perempuan Hari Selasa-ku adalah harapan. Walau ia tidak nyata.

Suatu saat yang tidak lagi kunanti, namun doa selalu terucap dalam hati. Pada hari Selasa menjelang matahari menyapa pergi, pada waktu-waktu di mana orang tua hendaknya mengunci anaknya di rumah, karena konon itulah waktu-waktu para makhluk halus banyak berkeliaran. Perempuan itu perempuan yang tak cantik memesona bak bidadari dari khayangan, namun ia menjeratku pada pandangan pertama, Perempuan Hari Selasa-ku ada di depan mata.

Tiga detik dan aku tertawan. Aku cemas ia akan pergi.
Dia tidak pergi.

Tiga detik kedua dan aku masih tertawan. Aku makin cemas ia akan pergi.
Dia tidak pergi.

Tiga detik ketiga dan aku makin tertawan. Aku merasakan susahnya bernafas membayangkan ia akan pergi.
Dia tidak pergi.

Dia ada di sana. Sekeliling badannya berpendar lembut. Dia bukan perempuan yang cantik memesona bak bidadari dari khayangan, namun ia menjeratku pada pandangan pertama.

Aku jatuh cinta.

-------

(060318 17:21 - 17:55, dalam perjalanan Bandung - Depok dengan travel. Tumben, cepet amat nulis, wkwkwk)
Share
Tweet
Pin
Share
1 comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Categories

  • belajar menulis (1)
  • fiksi (1)
  • karya insomnia (1)

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  March (1)
      • Perempuan Hari Selasa
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2012 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  October (1)

Blog Archive

  • ▼  2018 (1)
    • ▼  March (1)
      • Perempuan Hari Selasa
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  October (1)
  • ►  2012 (3)
    • ►  November (2)
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  October (1)

Created with by ThemeXpose