• Home
  • About Andien
  • Contact Me
Powered by Blogger.

Connect With Us

the plan B life

Source: 9spotmonk.com via Liz on Pinterest




Ehm, pertama-tama saya ucapkan Selamat Ulang Tahun jika hari ini ada yang berulang tahun. Selamat ulang tahun ya. Semoga selalu bahagia-sejahtera dan dalam lindunganNYA selalu. Atau jika ada yang sedang berbahagia dengan pasangannya karena hari ini, 29 Nopember 2012, adalah hari pernikahan atau penyatuan kasih sayang, saya juga ikut-ikut mengucapkan selamat deh. Semoga awet dan semua langkah yang diambil penuh dengan kasih sayang dan izinNYA. Amin.

Ok, sekarang tentang Tahun Berulang. Maksud saya, Ulang Tahun.

Ketika seseorang melewati momen ulang tahun atau hari jadi, sebagian besar ingat dan merayakannya. Pesta besar, private party, syukuran sederhana atau sekadar menuliskan status di social media supaya orang (terpaksa) mengingatnya dan (terpaksa) pula mengucapkan dan (mudah-mudahan yang ini tidak terpaksa) mendoakannya akan hal-hal yang baik.

Sesuatu yang sangat lazim. Ulang tahun menjadi momen yang “pas-bangeeetzz” untuk seseorang mengingatkan dirinya sendiri akan sebagian masa lalunya: pencapaiannya, kegagalannya, kebahagiaannya, kepedihannya. Melihat ke titik saat ini, bagaimana kondisi sekarang dibanding masa lalunya atas: pencapaiannya, kegagalannya, kebahagiaannya, kepedihannya. Kemudian berusaha merangkai mimpi masa depan atas: pencapaiannya dan kebahagiaannya. Menghindari dari kegagalan dan kepedihan. Kemudian memutuskan: apakah tetap jalan dengan (kisah hidup) yang lama, atau mencari sesuatu (kisah hidup) yang baru?

Keputusan besar pada momen besar.

Ulang tahun menjadi momen ketika orang pamer usia. Merasa tua adalah bijaksana. Merasa muda adalah pesona. Kadang inginnya dimudakan, atau malah dituakan. Usia yang sebenarnya selalu dirasa kurang pas, kecuali kalau Anda usia 17 tahun. Atau 25 tahun. Atau 40 tahun.

Juga untuk hari jadi atau ulang tahun pernikahan. Semakin banyak angka, umumnya akan semakin kokohnya pernikahan. Kalau tidak percaya, mainlah ke Pengadilan Agama. Eh, tapi jangan bawa pasangan ya. Bisa-bisa disangka Anda sedang upaya cerai dari istri/ suami Anda. :)

Ok, kembali lagi. Angka perceraian saat ini, izinkan saya menggeneralisasi tanpa statistik valid, lebih banyak di pasangan yang usia pernikahannya kurang dari 10 tahun. Apakah pasangan yang usia pernikahannya lebih dari 10 tahun tidak menemui masalah pelik? Oh, jangan salah. Bisa jadi masalahnya lebih pelik, namun urung karena mengingat: satu, anak. Terlebih kalau anak sudah satu kesebelasan, wuih, lebih baik jalani dan tutup mata deh. Kedua, kenyamanan. Berbagi hidup bersama 10 tahun bukan main-main dalam membuat seluruh ritme hidup satu terikat dengan yang lain. Meninggalkannya membuat kenyamanan itu hilang. Ketiga, hati sudah semakin lapang. Begitu banyak pintu maaf yang akan diberikan. Keempat, usia sudah semakin tua, bo’. Mau cari jodoh lagi kok ya kayaknya yang terbayang duluan adalah capeknya.

Tahun Berulang. Maksud saya, ulang tahun.

Banyak orang merayakannya dengan pesta besar, private party, syukuran sederhana atau sekadar menuliskan status di social media supaya orang (terpaksa) mengingatnya dan (terpaksa) pula mengucapkan dan (mudah-mudahan yang ini tidak terpaksa) mendoakannya akan hal-hal yang baik. Baik untuk ulang tahun diri, ataupun ulang tahun pernikahan.

Tahun Berulang. Semoga semua keburukkan dihilangkan dan kebaikan dilimpahkan.
Selamat Ulang Tahun!

29 Nopember 2012. 23:08.

Masih dalam rangka belajar dan pembiasaan untuk menulis kembali.


Share
Tweet
Pin
Share
No comments


Hari ini, Sabtu 24 Nopember 2012, di harian Kompas terpampang  setengah halaman iklan dari acara Indonesia Furniture Fair 2012. Pada iklan tersebut terdapat model perempuan duduk menyilangkan kaki di atas sofa kulit berwarna krem atau cenderung emas. Di samping wajah model tersebut tertulis kalimat: “furniture adalah kehidupan”. 

Wow. Bukan. WOW!!

Source: brunchatsaks.blogspot.com via Stacey on Pinterest


Itu respons pertama saya. Bukan atas model perempuan, ataupun sofa yang tampak elegan, melainkan atas kalimat “furniture adalah kehidupan” tersebut. 

Di zaman yang semua hiperbola, semua di-lebayalay-kan, sebenarnya sah-sah juga menyebut bahwa furniture adalah kehidupan. Bahkan apabila dikatakan furniture adalah peradaban, furniture adalah keajaiban, furniture adalah pencetus perang sekalipun, masih sah-sah juga. Hanya masalah penjustifikasian mengapa ada kata-kata bermakna besar, luas, hebat, di belakang “furniture adalah”.

Kembali ke “furniture adalah kehidupan”. Yang menjadi pertanyaan di benak saya adalah mengapa kini banyak sekali kata-kata dalam Bahasa Indonesia yang mengalami distorsi arti atau terdapat “noise” dalam pemaknaannya. Seperti dalam iklan tersebut, saya tidak melihat adanya hubungan langsung antara furniture dengan kehidupan. Apakah dengan me-lebayalay-kan maka pesan akan sampai? Bahwa orang akan berbondong-bondong untuk mendatangi pameran tersebut karena merasa pada pameran tersebut terdapat kehidupan? Tidak kan? 

Orang akan hadir di pameran tersebut karena kebetulan terdapat kebutuhan untuk membeli furniture (selanjutnya kata furniture saya ganti dengan mebel ya, kecuali jika dikaitkan dengan tema acara atau nama acara itu sendiri) dengan harapan mendapati model-model ala di IKEA misalnya dengan harga terjangkau. Atau hadir karena ia adalah salah satu pihak yang terlibat dalam industri per-mebel-an Indonesia yang merasa peduli, atau berniat mencari peluang bisnis, atau sekadar me-refresh wawasannya. Alasan hadir lainnya bisa jadi hanya karena iseng, menemani pasangan, dan alasan lainnya yang sangat personal dan memungkinkan sejuta kemungkinan.

Intinya, mungkinkah furniture adalah kehidupan?

Tulisan ini hanya sekadar curahan hati, semoga dapat menjadi masukkan bahwa lebay pun kadang perlu diiringi oleh masuk akal.
Saya tidak tahu kalau memang ternyata pameran itu memang dimaksudkan untuk menyatakan bahwa tanpa mebel seseorang dapat tidak hidup, bahwa mebel adalah sesuatu yang vital, seperti air misalnya, sehingga layak disebut: furniture adalah kehidupan.

Ah, mungkin saya memang harus datang ke sana untuk membuktikannya. Tampaknya tujuan iklan tersebut memang menyasar orang-orang seperti saya.
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Newer Posts
Older Posts

About me

About Me


Categories

  • belajar menulis (1)
  • fiksi (1)
  • karya insomnia (1)

recent posts

Sponsor

Facebook

Blog Archive

  • ►  2018 (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  October (1)
  • ▼  2012 (3)
    • ▼  November (2)
      • Tahun Berulang
      • Furniture adalah Kehidupan?
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  October (1)

Blog Archive

  • ►  2018 (1)
    • ►  March (1)
  • ►  2015 (1)
    • ►  November (1)
  • ►  2013 (1)
    • ►  October (1)
  • ▼  2012 (3)
    • ▼  November (2)
      • Tahun Berulang
      • Furniture adalah Kehidupan?
    • ►  June (1)
  • ►  2011 (1)
    • ►  October (1)

Created with by ThemeXpose